Tepat sehari yang lalu, yaitu 1 oktober 2010 kembali kita bangsa Indonesia merayakan sebuah acara yang bisa dikatakan sekedar seremonial kenegaraan yang dikenal dengan Hari Kesaktian Pancasila, yang udah 45 tahun di rayain turun-temurun oleh bangsa kita sejak pemberontakan G30S/PKI. Itulah sebabnya Kemunculan peringatan "Kesaktian Pancasila" yang disebabkan oleh gagalnya misi kaum Komunis mengganti dasar negara Indonesia. Karena kegagalan itulah selanjutnya Pancasila dianggap sakti, atau justru Pancasila kemudian dibikin sakral dan dianggap sakti.
Dan, apa emang saat ini Pancasila itu masih sakti? Seperti-nya sih tidak !!!. Terlepas dari makna kesaktian Pancasila itu sendiri. Kalau menurut ane saat ini, ternyata Pancasila itu sedang sakit keras bahkan juga mungkin sedang sedih dengan keadaan yang lagi terjadi di negara kita ini. Kalau kita telusuri dan pelajari, tiap isi dari Pancasila memiliki makna yang sangat dalam kalau emang kita menghayati-nya apalagi kalau emang kita ngelaksanain-nya sesuai dengan yang dirumusin oleh pahlawan-pahlawan bangsa di tahun 45 dulu, tapi kenyataan-nya saat ini, semua itu non sense, semua itu bohong, dan bahwa hampir seluruh komponen bangsa ini, ya pemerintahnya, ya rakyatnya juga tidak berjalan di atas dasar negara yaitu Pancasila yang seharusnya.
Ada yang bilang bahwa saat ini, di negara ini ideologi telah mati. Ya, pancasila sebagai ideologi negara pun ikut-ikutan mati, jadi apanya yang sakti. Sejak reformasi satu persatu asasnya dipreteli oleh rakyatnya sendiri. Kalau kita mencoba mengkonfrontasikan isi dari Pancasila itu sendiri dengan keadaan pada saat ini, maka kita akan menemukan banyak sekali kejanggalan-kejanggalan.
Sila pertama, "Ketuhanan Yang Maha Esa"
Kalangan agamawan yang sukanya bermain di wilayah ekstrim dan radikal akan bilang bahwa sila pertama itu mengajarkan kemusyrikan. Ketuhanan dianalogikan dengan kepulauan, jika Indonesia yang berjajar pulau-pulau itu disebut negara kepulauan, maka ketuhanan berarti berjajarnya tuhan-tuhan. Karena itu kemudian asas-asas organisasi yang muncul setelah reformasi kembali menggunakan asas agama, dan mengelukan Tauhid dan mencerca pancasila.
Sila kedua, "Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab"
Bahwa Kemanusiaan Yang Adil itu adalah suatu bentuk tindakan yang seharus-nya benar terhadap keseimbangan yang hakiki atas semua aspek-aspek yang berhubungan dengan kemanusiaan. Dan Kemanusiaan Yang Beradab itu adalah kulturalisasi bangsa yang memiliki sifat menghargai sesama, memiliki budi bahasa yang halus dan tidak kasar, dan bisa menerima perbedaan-perbedaan yang ada disekitar kita. Tetapi, kita bisa pastikan bahwa kemanusiaan yang adil di Indonesia ini hampir menuju ke persentase 0%, karena masih banyak sekali pemaksaan-pemaksaan kehendak yang dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung-jawab dan penekanan-penekanan secara fisik dan moral terhadap yang lemah tidak ubah-nya seperti di hutan. Dan sial-nya banyak dari kita hanya tutup mata melihat ketidakadilan itu. Bagaimana dengan kemanusiaan yang beradab?. Setiap orang mengaku-ngaku, berkoar-koar bahwa dia adalah manusia beradab; manusia yang tahu sopan santun; manusia yang tahu etika; dan manusia yang bisa menghargai sesamanya; makhluk yang paling tinggi derajat-nya dari makhluk apapun di dunia ini. Tapi, kenyataan-nya tidak sama sekali, bahkan banyak diantara kita yang dengan tega menghina dan menginjak-injak keberadaban dan hak asasi orang lain.
Sila ketiga, "Persatuan Indonesia"
Boro-boro persatuan, yang ada justru penyeragaman. Padahal jelas-jelas “motto” negara kita bhineka tunggal ika, atau bahasa kerennya unity in diversity. Tapi apanya yang persatuan, justru atas nama persatuan yang terjadi adalah penyeragaman terhadap perbedaan. Akhirnya konflik pun terjadi, otoritas-otoritas yang mengaku otoritatif berupaya membelenggu orang-orang yang berbeda dari arus mainstream dengan sikap-sikap koersif. Pemerintah yang semestinya menjunjung tinggi undang-undang dan menaungi semua golongan, justru terkadang berpihak pada mereka yang disebut mayoritas.
Sila keempat, "Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan"
Sila keempat lebih memilukan dan memalukan kalau melihat tingkah laku anggota dewan, mereka yang menjadi orang-orang pilihan rakyat, justru malah mengecewakan. Terutama yang disoroti soal kinerja, dan aktifitas boros seperti plesir ke luar negeri, dan menghamburkan uang untuk proyek-proyek yang memakai istilah rakyat dan aspirasi. Sila keempat ini pun sama tidak saktinya dengan sila kelima yang katanya merupakan pokok pikiran utama dari ekonomi kerakyatan di negeri dengan 240 juta jiwa ini.
Sila kelima, "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia"
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Benarkah? Dalam bidang ekonomi saja, sulit untuk menentukan makna keadilan, pemerintah musti sibuk membela diri bahwa standar nominal rakyat miskin versi mereka paling valid ketimbang milik PBB dan pihak asing lainnya. Terus kapan mau bertindak? Sudah kok, pemerintah sudah bertindak lewat BLT, konversi minyak tanah, kenaikan harga sembako, perjanjian perdagangan bebas, ekspor buruh migran, dsb. Jadi semestinya keadilan sosial, minimal dalam bidang ekonomi sudah merata dan mensejahterakan rakyat Indonesia, tapi kalau nyatanya tidak, ya mungkin pancasilanya belum sakti.
Ideologi telah mati, mungkin teori ini ditolak mentah-mentah oleh Slavoj Zizek yang berpendapat bahwa selama realitas itu ada, maka ideologi akan tetap ada. Tetapi di negara ini terlalu banyak ide-ide yang dianggap ideal dan disakralkan oleh manusia-manusianya, sakti atau tidak saktinya ideologi dikarenakan manusianya sendiri, manusia yang membuat pancasila menjadi sakti, atau tidak sakti. Oleh karena itu ketika terjadi ketimpangan, rakyat dipaksa untuk sesuai, dan menyesuaikan diri. Manusianya yang sakti atau ideologinya?
"Duka bagi Nusantara, Bangsa Indonesia"Sahabat, mari sejenak kita renungkan atas semua kejadian-kejadian yang terjadi selama ini. Bangsa Indonesia tidak hentinya saat ini kembali berduka, sang maha sekiranya kami mengerti apa dosa Bangsa ini? Sebegitu berdosanya kah bangsa ini? Hingga tiap waktu yg berputar harus kembali menemui kedukaan.
Musibah & bencana tiada henti menyambangi Bangsa yg besar yg bernama Indonesia. Gempa Sumbar setahun yg lalu dan belum hilang dari ingatan, banjir bandang Mandailing Natal. Dalam waktu + 2 minggu ini kebakaran di beberapa daerah melanda hutan & gunung. Untuk Jakarta sendiri sedang tercekam oleh kekerasan antar golongan. Satu sisi lg berbagai media menggambarkan sifat kerakusan & ketamakan manusia, mulai dari korupsi, kisruh kepentingan, dagelan politik, perusakan alam, kesenjangan sosial ekonomi (kemiskinan bahkan kelaparan) & berbagai sorotan yg membuat miris.
Setimpal kah berbagai kerakusan & ketamakan segelintir manusia di negeri ini dengan fenomena alam yg terjadi? Ya dan PANTAS ALAM MULAI MURKA... Jangan kambing hitamkan gempa dengan kajian ilmiah.. Tapi kajilah dengan agama-mu (apapun agamamu) kajilah dengan nilai luhur budayamu (apapun suku & budayamu), TANYA KENAPA KEMURKAAN ALAM INI TERJADI, bacalah... Situasi kondisi ruang waktu dimensi yang terjadi di Bangsa ini...
Sebuah Bangsa yg besar yg murung...
Sebuah Bangsa yg besar yg mundur...
Sebuah Bangsa yg besar yg bodoh...
Sebuah bangsa yg besar yg tak beradab...
Dan lain2nya...
PANTASKAH KITA SEBAGAI BANGSA YG BESAR MENYANDANG ITU SEMUA..!!!
Ayolah.. kita sadari alam pun mencatat atas kerakusan & ketamakan yg terjadi, Tuhan yg maha esa mempunyai kehendak atas semua yg terjadi..
Innalillahi wa innalilaihi rojiun..
Atas duka bangsa ini, untuk semua sahabat beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, semua suku yg ada dalam kebhinekaan ayo kita renungkan dengan kepercayaan masing-masing doakan agar bangsa ini terlepas dari musibah dan bencana, untuk sebuah Bangsa yg besar yg bernama Indonesia
Saya mengajak para sahabat IKASSAKA'08 or siapapun Anda yang membaca artikel ini, untuk merenungi semua yg terjadi di Negara kita Bangsa yg kita cintai.. Memang terdengar naif & seakan saya terlalu sempurna & bijak untuk ajakan ini.. Atas dasar kecintaan tanah air dan Bangsa Indonesia, perenungan ini saya persembahkan.. Semoga kesadaran dari hati yg terdalam menjadikan kita sebagai manusia yg penuh syukur dan menghargai sebuah bangsa yg besar yg bernama Indonesia, semoga Allah swt Tuhan yg maha esa meridhoi perenungan ini...
Putarlah Lagu syukur diatas sebagai "Sebuah Renungan di Hari Kesaktian Pancasila", tundukkan kepala dengar dan renungkanlah..
Sumber, ter-inspirasi oleh kawan kaskuser dan mencoba untuk menulis ulang dan menambahkan beberapa kalimat. Semoga ini dapat bermanfaat bagi kita semua, satukan kata.. satukan hati.. untuk semboyan or motto Indonesia "Bhineka Tunggal Ika"